Hijab Traveler Goes To Seoul (Part 2)

Gyeoungbokgung Palace

Di Seoul terdapat banyak sekali istana/Palace di pusat kota, dan saya hanya mengunjungi satu yaitu yang terbesar, Gyeoungbokgung. Kesan saya memang kompleks istananya luas, dan hebatnya adalah Istana ini terdapat di pusat kota jadi di sekelilingnya adalah gedung-gedung pencakar langit. Setiap beberapa jam ada upacara pergantian penjaga yang cukup menarik meskipun hanya sebentar saja dan bukan pawai heboh.

Terdapat English free tour guide tiga kali sehari dan saya join dengan puluhan turis lainnya pada jadwal terakhir jam 15.30. Saya hanya ikut setengah jam (tour dengan guide memakan waktu 1 jam) karena saya sudah berkeliling sebelumnya  dan kaki rasanya sakit sekali hahaha. Kemudian saya pribadi agak susah memahami aksen English sang tour guide ditambah pula ramainya turis lain jadi tidak bisa benar-benar jelas memahami penjelasan sang Tour Guide jadi saya cabut saja karena bosan hahaha.

Saya juga sangat terkesan oleh hebatnya pemerintah Korea mempromosikan budaya negaranya, tidak hanya ke turis mancanegara tetapi juga ke orang lokalnya sendiri. Saat di Gyeoungbokgung palace, saya melihat banyak abege Korea datang dengan menggunakan Hanbok (pakaian tradisional Korea) dengan membawa tongsis hanya untuk berfoto dengan latar istana. Mereka bangga sekali dengan budayanya sendiri. Banyak yang datang bergerombol dengan teman-teman, bahkan banyak juga yang datang dengan pacarnya untuk kencan dan berfoto bersama dengan menggunakan pakaian tradisional mereka.

korea_dita

Budget masuk Gyeoungbokgung Palace: 3000 KRW atau 38.100 IDR.

Interaksi dengan warga lokal.

Selama saya di Korea saya banyak bertemu dengan turis Malaysia, dan sedikit turis Indonesia.  Hebat ya mungkin taraf hidup mereka sudah lebih tinggi dari Indonesia sehingga travelling ke luar negeri lebih common buat mereka. Kemudian jika ingin tanya arah, carilah anak muda yang mungkin bisa Bahasa Inggris. Saat saya nyasar dan ingin cari restoran di Itaewon, seorang oppa Korea muda membantu saya bahkan mencarikan alamat resto dengan google mapsnya dalam Bahasa Korea dan mengantar saya sampai tujuan. Baik sekali! Tapi saat tanya ke ibu-ibu yang jaga GS25, dia berbicara Bahasa Korea dan saya hanya menerka-nerka arahannya melalui bahasa tubuhnya.  Hasilnya saya tetap nyasar hahaha.

Saat di tempat shopping dan nyasar, jangan tanya pada pramuniaga suatu toko karena mereka mungkin tidak terlalu peduli jika kita bukan customer mereka, tidak seperti di Indonesia. Carilah tourist information yang biasanya banyak tersebar di tempat-tempat shopping seperti Myeoungdong ataupun di Lotte Dept Store. Gunakan leaflet atau papan informasi yang banyak tersedia. Pengalaman saya saat tanya pada seorang pramuniaga toko di Lotte Dept Store, dia bahkan tidak melihat saya ketika saya tanya dan menjawab “I don’t know” sambil tetap merapikan barang dagangannya dengan jutek ckckck. Kata teman saya pramuniaga di sini mungkin terbiasa melayani turis China sehingga mereka berkelakuan seperti itu. Turis China sepengetahuan saya memang sangat banyak dan mereka belanja sangat banyak, tetapi ada stereotype kelakuan kurang menyenangkan dari mereka.

Orang Korea cukup terbiasa dengan turis,  meskipun katanya mereka cukup rasis. Banyak yang suka memperhatikan saya karena saya berhijab  tapi mereka cukup sopan jadi hanya diam2 saja sambil curi2 lihat penasaran hahaha I’m totally okay with that. Mungkin mirip dengan misalnya di Indonesia kita lihat orang kulit hitam. Kalau orang Korea sana mereka lebih mind your own business gitu, jadi jangan khawatir.

Makanan Korea Halal, yummy

Satu hal yang jangan dilewatkan saat di Korea adalah makan makanan Korea halal. Makanan Korea itu taste nya cukup dekat dengan makanan Indonesia jadi banyak orang Indonesia yang suka, jadi saya tidak mau melewatkan makan makanan Korea di tempat aslinya. Saya pribadi tidak makan daging dan ayam jika bukan di restoran bersetifikat halal, dan sayangnya di pusat kota tidak banyak restoran bersertifikat halal kecuali kebab atau resto India, jadi saya bela-belain ke Itaewon, sebuah distrik internasional jadi banyak restoran bersertifikat halal.

Di sini juga ada Seoul Central Masjid jadi yang ingin sekalian sholat bisa mampir ke sini. Saya makan di restoran bernama “Makan” yang menjual makanan khas Korea halal, dan rupanya dikelola oleh orang Malaysia. Saya mencoba Taktoritang atau Dakdoritang, yaitu ayam dengan kuah pedas dan saya SUKA SEKALI. Rasa kuahnya agak mirip tomyam, tapi tidak terlalu asam dan sebagai orang Indonesia yang suka asin dan berbumbu, saya awalnya ingin tambah garam karena seperti kurang nendang bumbunya, namun lama-lama saya makan ternyata rasanya memang pas seperti itu. Enak sekali!!

korea_dita2
Taktoritang

Saat hendak pulang di bandara Incheon, saya juga makan di restoran Korea bersertifikat halal di dekat gate 101 bernama “Nimat” . Saya mencoba Bulgogi Kimbap, yaitu kimbap (sushi nya orang Korea) dengan isi daging bulgogi. Saat makan di sini mereka tidak menyediakan saus atau sambal seperti kebiasaan makan orang Indonesia yang suka makan dengan sambal, jadi bawa sendiri ya dengan Bon Cabe jika perlu .

Budget untuk seporsi Taktoritang atau Dakdoritang adalah 10.000 KRW atau 127.000 IDR. Memang porsinya cukup besar dibandingkan dengan porsi makanan di Indonesia jadi misalnya bertiga, bisa cukup pesan 2 porsi saja. Dan di semua resto di Korea, air putih gratis.

Budget untuk Bulgogi Kimbap di bandara adalah 5.500 KRW atau 69.850 IDR.

Untuk pengalaman sholat di tempat umum, saya tidak pernah sama sekali sholat di tempat umum karena tidak ada yang menyediakan musholla. Saya biasanya selalu balik ke hostel jika hendak sholat, tapi hal tsb tidak menjadi masalah buat saya karena bisa sekalian istirahat dan menaruh barang belanjaan. Saya juga selalu menggunakan toilet saat balik ke hostel. Berdasarkan pengalaman saya, di tempat-tempat besar seperti hotel bintang 5, gedung perkantoran dan airport, semua toiletnya terdapat fungsi untuk memancarkan air untuk membasuh setelah buang air, jadi nyaman untuk digunakan untuk kita yang berkebiasaan membasuh dengan air dan tidak hanya tisu setelah buang air. Tapi saya tidak pernah ke toilet di tempat-tempat lainnya, jadi saya biasanya selalu bawa tempat minum yang biasanya saya isi air dari wastafel untuk membasuh dengan air sesudah buang air, jaga-jaga jika toiletnya tidak ada fungsi tsb.

Bukchon Hanok Village

Saat ke Bukchon Hanok Village dengan mengikuti petunjuk orang dan website Korea, yaitu exit 2 Anguk Station, lagi-lagi saya nyasar meskipun kata orang-orang mudah menemukannya. Saran saya, jalan terus meskipun agak jauh, dan lihat baik-baik papan petunjuk di jalanan karena saya nyasar karena ikut peta yang diambil di bandara hahaha.

Hanok Village ini adalah perumahan dengan bentuk rumah tradisional yang benar-benar dihuni sehingga banyak papan yang menghimbau untuk tidak berisik, tidak menyampah dan tidak memasuki rumah agar tidak mengganggu privasi penghuni. Lumayan bisa melihat pemandangan perumahan tradisional, lagi-lagi di tengah kota, dan gratis! Sebelumnya saya makan siang di sebuah café bernama Paris Croissant yang terletak sebelum exit 2 Anguk Station sambil menunggu hujan. Pizza sayurannya enak sekali!!

korea_dita4
Bukchon Hanok Village

 

 

korea_dita3
Pizza Sayuran

Budget untuk seporsi pizza sayuran adalah 5.400 KRW atau 68.580 IDR.

Shopping at Myeoungdong

Myeoungdong adalah area belanja dengan toko-toko kosmetik Korea yang berjejer di sepanjang jalan. Banyak pramuniaga menawarkan orang masuk ke toko dengan memberi sampel masker gratis, lumayan kalau dihargai di IDR bisa sekitar minimal 4000 an jadi ambil saja tidak perlu takut, hal itu biasa di sana haha. Tapi saya selalu beli sesuatu setelah dapat sampel gratis, jadi saya memang cari toko yang memang saya mau beli dan tidak hanya sekedar masuk toko untuk ambil gratisan sampel. Saya baca ada sih orang-orang yang hanya ambil sampel, masuk toko kemudian keluar tidak membeli apa-apa hahaha ckckck.

Dekat Myeoungdong, terdapat LOTTE shopping mall. Di 3 lantai teratas terdapat Duty Free shops. Duty Free shops adalah toko-toko yang menjual barang-barang bebas pajak jadi lebih murah. Untuk belanja kita perlu menunjukkan paspor kita dan memberikan data-data flight kepulangan dsb dan computer cashiernya akan terhubung dengan data airlines sehingga mereka bisa memverifikasi data kita. Ini untuk memastikan apakah benar kita turis sehingga bisa bebas pajak.

Di sini saya lihat orang ramai belanja dengan kalap. Banyak yang bawa-bawa koper untuk mengangkut belanjaan mereka, wow. Memang banyak orang tujuan belanja di sini adalah belanja kosmetik Korea, saya lihat brand yang paling ramai dikunjungi adalah Sulwhasoo. Dua teman saya ditolak belanja oleh Sulwhasoo karena tiket kepulangan mereka adalah e-Ticket yang meskipun sudah ditunjukkan dari handphone dan paspor mereka sudah discan, tetap saja ditolak oleh Sulwhasoo. Ckckck baru sekali ini saya merasakan SUSAHnya mau BELANJA bukan SUSAHnya JUALAN.

Sedangkan saya sendiri belanja kosmetik US, Laura Mercier, dan prosesnya cukup mudah, cukup scan paspor dan sebutkan data-data seperti nama dan no telepon, mereka langsung bisa mengidentikasi flight no.saya dan “mengijinkan” saya belanja. Eits tapi ternyata tetap susah, karena barang saya harus diambil di airport pada saat saya hendak pulang karena saya belanja brand non-Korea. Jadilah saat hendak pulang saya datang lebih awal ke airport karena orang bilang antrinya sangat lama untuk ambil barang. Rupanya saat saya hendak ambil barang di airport, saya hanya sendirian yang orang asing, saya antri dengan ratusan orang Korea dengan semua petugas berbicara Bahasa Korea karena rupanya Duty Free Shops juga memang digunakan oleh orang Korea yang hendak keluar negeri dan ingin belanja barang bebas pajak.

korea_dita5
Myeoungdong

Tips makan di Myeoungdong: saya pribadi makan shrimp burger yang enak di McDonalds (tidak bersertifikat halal), tapi saya lihat kalau malam di Myeoungdong ada gerobak kebab dengan sertifikat halal dan ada juga gerobak Bungeoppang (Kue manis bentuk Ikan) bersertifikat halal juga.

Budget untuk seporsi paket makan Shrimp Burger plus kentang goreng dan coca cola adalah 5.500 KRW atau 69.850 IDR.

Pengalaman Tax Refund

Pada dasarnya sebagai turis kita berhak untuk belanja tanpa pajak, jadi lebih murah. Nah mekanismenya ada 2:

  1. Immediate tax refund yaitu kita beli barang yang harganya sudah dikurangi harga pajak dengan menunjukkan paspor kita saat bayar di kasir.
  2. Tax Refund di bandara. Kita beli barang dengan harga yang masih normal dengan tanpa dikurangi pajak, dan kita bisa dapat tax refund saat di Incheon airport sebelum pulang.

Mekanisme apakah barang bisa langsung dibeli sudah dipotong pajak ataupun bisa tax refund di bandara adalah tergantung masing-masing toko. Pengalaman saya di Myeoungdong sangat jarang yang memberlakukan immediate tax refund, keculai di Lotte Dutty Free Shops di Lotte Dept. Store. Jika ingin urus tax refund di bandara sebelum pulang, sebenarnya prosedurnya cukup mudah. Sebelah gerbang saat masuk departure pertama kali, terdapat counter tax refund dengan petugasnya, jadi cukup serahkan struk dan petugas yang akan mengurus. Saat saya ke sana juga tidak antri. Setelah lewat imigrasi, carilah gate 24 atau 41, dan kita bisa dapat cash refund di sana dengan scan paspor.

Nah pengalaman saya, karena gate 101 ke atas terdapat di terminal berbeda dan harus naik kereta ke sana, uruslah cash refund terlebih dahulu di gate 24 atau 41 sebelum mencari gate kita jika gate kita di atas 101. Saya biasanya selalu cari gate saya dulu untuk memastikan apakah gate saya benar dengan mencocokkan nomor flight dan airline, baru saya keliling-keliling untuk shopping maupun jajan menghabiskan mata uang asing. Namun sekali ini karena saya sudah ke gate saya di terminal berbeda dengan naik kereta, tidak bisa balik ke terminal dengan gate 24 atau 41 untuk cash refund .

Kontributor : Nindya (@neendita)

Kontributor adalah Mbak Mbak Kantoran yang sering ditugaskan buat meeting di Beberapa Negara Asia. Disela sela meeting disempatkan buat jalan jalan untuk lebih mengenal negara yang dikunjungi nya. Kalau Mau nanya-nanya langsung saja stalking doi di IG nya @neendita.

Advertisements